Berbagi Ilmu Tentang Jantung Sehat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sekitar 17 juta angka kematian di seluruh dunia tahun lalu disebabkan penyakit kardiologi, dengan jantung koroner berada di tingkat tertinggi. Di Indonesia, angkanya di kisaran 19 persen dari angka total kematian. Jantung koroner menjadi silent killer, pembunuh paling mematikan setelah stroke.

Kasus penyakit jantung koroner di Indonesia pun semakin beragam. Jika satu atau dua dekade belakangan penyakit ini banyak dialami orang dalam rentang usia di atas 60 tahun, kini penderita masalah jantung sudah semakin muda. Kasus-kasus terbaru bahkan mencengangkan, kematian disebabkan jantung koroner terjadi di rentang usia produktif.

“Beberapa kasus yang kami tangani, penderitanya masih berusia di bawah 35 tahun. Trend-nya terus berubah. Gaya hidup, pola makan, dan kesadaran untuk hidup sehat, terutama di Indonesia, membuat masyarakat kita semakin rentan,” ujar dr. Jefrrey Wirianta, Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah dari Rumah Sakit Jantung Diagram, dalam acara Health Talk di Medco Building, Ampera, Jakarta Selatan, Jumat (21/9) pagi.

Dalam bincang sehat yang diselenggarakan Medco Foundation dan Klinik Ampera 20 ini, Jeffrey memaparkan bagaimana jantung koroner terjadi dan apa saja yang harus diperhatikan dalam upaya mencegah penyakit ini terjadi.

 

“Jantung koroner terjadi kertika arteri yang memasuk darah ke jantung mengeras dan menyempit, disebabkan penumpukan kolesterol dan bahan lainnya yang disebut plak pada dinding pembuluh darah. Plak akan semakin membesar, sehingga aliran darah ke jantung semakin sulit dan semakin sedikit,” kata Jeffrey.

Gejala jantung koroner, menurut Jeffrey, di antaranya adalah nyeri dada. Nyeri ini bisa menjalar ke leher, rahang, bahu, tangan sisi kiri, hingga pungggung. Bahkan, ada kasus langka di mana nyeri terjadi di gigi dan gusi. Gejala lain yang khas adalah keringat dingin, mual, muntah-muntah dan mudah lelah, serta irama denyut jantung yang tidak stabil.

“Cara mudah untuk melihat gejala ini adalah saat nyeri di dada terjadi penderitanya diminta berjalan atau naik tangga. Jika nyeri semakin berat dan berlebihan, lalu reda saat beristirahat, maka kemungkinan besar itu gejala jantung koroner. Segera periksa ke dokter,” kata Jeffrey lagi.

Kepada peserta Health Talk, Jeffrey menekankan bahwa mencegah jantung koroner dan penyakit kardiologi lainnya harus dilakukan sedini mungkin. “Jangan merokok, banyak mengonsumsi buah dan sayuran, olahraga teratur, kontrol gula darah, kolesterol, trigliserid, mengetahui tekanan darah secara rutin, dan hindari stress berlebihan,” katanya. [INS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.