Ekspresi Anak-Anak Wukirsari

“Sekarang musim hujan. Hujan tidak pernah berhenti. Hujan terkadang lebat dan terkadang tidak. Musim hujan sangat kusukai karena saat musim itu aku pernah hujan-hujanan. Tetapi terkadang aku juga tidak suka karena bisa banjir. Saat di sekolah aku tidak tahu kalau saat itu hujan telah datang. Akhirnya baju dan celanaku juga kerudungku basah. Untung aku membawa baju ganti …”

Tulisan di atas merupakan salah satu  penggalan cerita yang ditulis Angeline Purnomo dalam buku “Celoteh Anak Wukirsari”.

Angeline bersama dua puluh anak-anak asal Desa Wukirsari, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menuliskan kisah-kisah mereka dalam buku yang diterbitkan oleh perpustakaan yang ada di desa mereka: Perpustakaan Desa Wukirsari.

Karya yang dihasilkan Angeline dan kawan-kawannya memang tak lepas dari keberadaan Perpustakaan Desa Wukirsari. Bagi anak-anak itu, perpustakaan yang ada di desa mereka telah menjadi tempat menyenangkan untuk bermain dan belajar. Perpustakaan yang dibangun oleh Medco Foundation bersama Bank Mandiri pada 2012 itu menyediakan banyak fasilitas bagi para pengunjung –termasuk anak-anak sekolah.  Selain koleksi buku, ruang baca, atau ruang komputer, perpustakaan tersebut juga menyediakan ruang berbentuk selasar sebagai tempat untuk bermain, berdiskusi, workshop, latihan seni, atau melakukan eksprerimen sain.

baca2

Menurut Ketua Perpustakaan Desa Wukirsari, Ujang Purnomo, penerbitan  buku “Celoteh Anak Wukirsari” menjadi salah satu bentuk dukungan dari para pengurus perpustakaan terhadap anak-anak Wukirsari agar mereka selalu berkarya dan menjalankan berbagai aktifitas kreatif di perpustakaan. Dalam kata pengantar buku ini, Ujang mengungkapkan, “Ketika anak-anak sudah berhasil menuliskan karyanya, kiranya perlu didukung semangatnya, didukung untuk terus berkarya dan didukung keberlanjutannya.”

Ujang mengapresiasi semangat anak-anak di desanya yang tak putus asa dalam menuliskan berbagai ekspresi maupun pengalaman dalam buku ini. “Semoga semangat belajar ini akan tetap terjaga, membawa mereka sebagai pembelajar sejati yang tangguh menghadapi tantangan,” lanjutnya. Ia pun berharap akan ada karya-karya lanjutan yang lain dari anak-anak Desa Wukirsari.

Sebelum menerbitkan buku ini, pengurus Perpustakaan Desa Wukirsari mengadakan kelas menulis untuk anak-anak di Desa Wukirsari. Sebagai fasilitator dalam kelas menulis itu adalah Heni Wardatur Rohmah —pendiri Rumah Pintar Mata Aksara di Yogyakarya — yang juga menggagas penerbitan sekaligus menjadi editor buku ini. Heni menjelaskan bahwa kelas menulis yang dipimpinnya selalu mengasyikkan karena terus diwarnai semangat anak-anak yang dilatihnya. “Duduk bersama mereka, anak-anak Wukirsari yang penuh semangat itu sungguh menyenangkan. Riuh suara dalam tiap pertemuan kelas menulis bisa mendadak senyap ketika mereka mulai menggoreskan pena di atas kertas,” ungkapnya.

Heni meyakini bahwa  anak-anak itu bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Oleh karena itu ia berharap berbagai pihak mesti memberi dukungan dan memberikan apresiasi agar anak-anak tersebut tidak patah semangat. “Langkah mereka masih panjang, dan inilah langkah pertama mereka yang menunjukkan bahwa anak-anak Wukirsari mampu berkarya,” jelasnya.***

Freesound.org – FSpeler – Gokkasten + Casino Spellen + Online Casinos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.