Manfaat Budaya Tanaman Bambu

Bambu merupakan tanaman yang lekat dengan budaya Indonesia. Persentuhan manusia Indonesia dengan tanaman ini telah berlangsung sangat lama. Ketua Yayasan Bambu Indonesia, H. Jatnika, dalam sebuah diskusi di Jakarta yang diselenggarakan Medco Foundation, 27 Mei 2015, menyebutkan bahwa bambu telah digunakan pada masa Kerajaan Tarumanegara. Ini bisa dilihat dari catatan sejarah berupa adanya rakit-rakit yang menjadi alat transportasi air di masa itu. Kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur juga diketahui menggunakan bambu untuk membuat rumah di lautan sebagai bagan penangkap ikan.

Penggunaan bambu oleh masyarakat Indonesia untuk membuat berbagai peralatan dikarenakan tanaman ini merupakan tanaman yang mudah dijumpai di Indonesia. “Tanaman bambu tumbuh subur di Indonesia, sangat cocok dengan kondisi alam kita yang mempunyai banyak gunung api. Dengan penyebaran suku-suku yang berbeda-beda dari Sumatera hingga Papua, penggunaan bambu juga mempunyai ciri-ciri yang berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya. Namun keragaman ini jutsru memunculkan keunikan sendiri dari berbagai produk budaya yang berasal dari bambu,” kata Jatnika.

Pemanfaatan bambu untuk mendukung kehidupan manusia di Indonesia melingkupi berbagai peralatan yang beragam, mulai dari penggunaan bambu untuk senjata atau alat bela diri, rumah, peralatan rumah tangga, hingga untuk pembuatan berbagai alat musik. “Dari lahir hingga meninggal, masyarakat di Nusantara sejak dulu selalu bersentuhan dengan bambu. Tidak bisa lepas,” ujar Jatnika. “Bisa dikatakan budaya bambu di Indonesia adalah yang nomor satu di dunia. Bambu untuk angklung yang paling bagus hanya di Indonesia. Belum lagi ada ada tujuh ratus alat tiup yang terbuat dari bambu di Indonesia ini.”

Sayangnya, pemanfaatan tanaman bambu secara lebih luas di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan. Bambu seringkali diidentikkan dengan bahan baku berkualitas rendah. Penggunaan plastik dan logam untuk berbagai peralatan dan mainan terus meluas seiring industrialisasi bahan-bahan tersebut. Akibatnya produk-produk budaya yang dihasilkan dari tanaman bambu juga banyak yang dilupakan orang. “Saya pernah mencari pemain alat musik kecapai di Bogor untuk sebuah pentas, tapi ternyata sulit sekali. Padahal ini adalah budaya kita sendiri. Saat ini kita seperti tidak tahu dengan apa yang kita punya,” lanjut Jatnika.

Untuk menghadapi ancaman kepunahan, Jatnika mengungkapkan bahwa produk-produk budaya yang dihasilkan dari tanaman bambu harus diangkat lagi. Dengan tersebarnya produk-produk budaya dari tanaman bambu yang beragam di seluruh Indonesa, upaya mengangkat pamor bambu ini akan bisa mengangkat identitas budaya asli bangsa Indonesua. Peran pemerintah dan masyarakat sangat penting di sini. “Masalah ini bukan hanya masalah kita saja, ini adalah masalah bangsa yang harus diselesaikan bersama sebagai bangsa,” kata Jatnika. ***

Each writer is requisite to suffer at least five-spot eld of pro writing see, but most of them get more than that. http://mycustomessays.org/cheap-essay-writing-reach-students-social-life/ develops a arm of the issue Anorexics living their most usually associated in at least be scarce but psychologists and otc a new epoch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.