Mengenang Lhok Nga

aceh_01

Satu dekade lalu, 26 Desember 2004, gelombang tsunami menggulung Aceh. Itulah bencana alam terdasyat abad ini. Lhok Nga, sebuah kecamatan di barat Aceh berpantai indah, merupakan salah satu daerah terparah akibat hantaman bencana itu. Di wilayah itulah Medco melakukan kerja-kerja kemanusiaan untuk membantu masyarakat.

M. Zein, karyawan Medco Foundation yang saat itu ikut terjun di Lhok Nga, mengenang, ”Seminggu setelah kejadian, saat saya tiba di Lhok Nga, masih banyak mayat belum dievakuasi. Saya ikut membantu mengubur sekitar 400 mayat para korban dalam dua susunan.” Ketika itu, yang ada di benak M. Zein hanyalah keinginan untuk menolong. Hal-hal yang lain dilupakan. “Walapun kondisi sangat memprihatinkan, seperti tidak ada listrik, dan lain-lain, tapi kami coba tetap tabah membantu. Tidak mikir yang lain. Masyarakat Lhok Nga butuh pertolongan,” ujarnya.

Pada hari-hari pertama setelah peristiwa tsunami, kawasan Lhok Nga yang terletak sekitar 13 kilometer dari Banda Aceh, termasuk salah satu daerah yang kurang tersentuh bantuan dari luar. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan Medco untuk mendirikan sebuah posko di Lhok Nga.

aceh_03

Tak berhenti menjalankan kerja-kerja evakuasi, M. Zein bersama para karyawan Medco yang lain, terus melanjutkan upaya pertolongan kepada masyarakat. Helikopter dan alat-alat berat didatangkan. Tenda-tenda didirikan hingga lahirlah Posko Jenggala. Tidak hanya sebagai tempat pengungsian, Posko Jenggala menjadi pusat aktifitas baru masyarakat di Lhok Nga setelah bencana melanda.

Posko Jenggala mengembangkan suatu metode unik untuk membantu masyarakat Lhok Nga agar mulai bangkit dari keterpurukan. Salah satu caranya adalah dengan melibatkan dan memberdayakan mereka dalam kegiatan-kegiatan di Posko Jenggala. Warga laki-laki yang masih dalam kondisi sehat diikutsertakan untuk membersihkan puing-puing bencana. Bersama dengan para relawan dari luar, mereka berangkat menggunakan truk dari Posko Jenggala setiap hari. Warga perempuan yang selamat dan masih sehat, membantu memasak untuk kebutuhan makan bersama setiap hari.

Aktifitas Posko Jenggala di Lhok Nga berlangsung lebih dari satu tahun. Berbagai fasilitas darurat didirikan, seperti rumah sakit lapangan, puskesmas, kuburan, dan pembangunan rumah tinggal untuk masyarakat. Berbagai kegiatan trauma healing juga dilakukan. Tak lupa kegiatan pemulihan lingkungan berupa penamaman ribuan pohon kelapa di sepanjang pantai Lhok Nga pun dilakukan sebagai upaya memperbaiki lingkungan.

aceh_02

Kelak, segala upaya yang dilakukan Posko Jenggala di Lhok Nga akan menjadi modal besar bagi Medco untuk berbagai program dan kegiatan pemulihan dan bantuan pasca-bencana. Dalam wawancara dengan Majalah PKBL Action, Ketua Medco Foundation, Roni Pramaditia, menyatakan bahwa peristiwa tsunami di Aceh menjadi salah satu titik balik untuk merapikan metode dalam kegiatan-kegiatan pasca-bencana. “Karena hal yang bisa dipetik dari bencana Aceh adalah adanya kesatuan gerak dari seluruh stakeholder,” katanya.

Salah satu titik balik yang terjadi setelah peristiwa tsunami bagi Medco adalah kelahiran Medco Foundation secara resmi.  Lembaga inilah yang kemudian aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pasca-bencana di Indonesia hingga kini. Medco Foundation telah berpengalaman menangani kegiatan pasca-bencana di berbagai daerah, seperti gempa Yogyakarta, gempa di Sumatera Barat, tsunami Pangandaran, banjir Jakarta dan Morowali, hingga bencana erupsi Gunung Sinabung.

Khusus untuk mengenang tsunami Aceh, terutama kawasan Lhok Nga, Medco Foundation menjadi salah satu sponsor penerbitan buku “Aceh Revives: Celebrating 10 Years Recovery in Aceh”. Buku karya warga Selandia Baru, Noel Trustum, ini diluncurkan beberapa waktu lalu di Jakarta. Melalui buku ini kita bisa belajar dan melihat kegigihan rakyat Aceh untuk bangkit dari keterpurukan setelah peristiwa tsunami satu dekade lalu. ***

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *