Menjaga Air, Merawat Bumi

“Perang pada abad ini untuk berebut minyak. Tapi, perang di masa depan untuk berebut air” – Ismail Seragilden.

Petikan wawancara mantan presiden Bank Dunia, dimuat The New York Times pada 10 Agustus 1995, ini menjadi penanda bahaya, bahwa di masa depan warga dunia telah diintai oleh tantangan global bernama krisis air. Perang berabad-abad untuk penguasaan minyak, sumber daya yang tidak terbarukan, akan berganti ke perang lain. Perang air.

Laporan Water for Life Decade 2005-2015, yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan kelangkaan air sebagai masalah utama penduduk dunia pada abad ini. PBB menyebutkan saat ini ada seperlima penduduk bumi atau sekitar 1,2 miliar orang hidup di wilayah yang kekurangan air. Pada tahun 2025 nanti diperkirakan 3,4 miliar orang akan tinggal di daerah-daerah langka air (un.org/arabic/waterforlifedecade/waterforlifebklt-e.pdf).

Forum-forum besar dan para pakar sepakat bahwa dalam beberapa dekade mendatang kelangkaan air bersih akan menjadi tema global yang menggerakkan berbagai aksi masif warga dunia. Migrasi adalah hal tak terelakkan. Penduduk di sub-Sahara dan sebagian Eropa akan berpindah ke wilayah-wilayah Asia dan Pasifik yang masih kaya air. Dalam pandangan ekstrim, aksi masif itu bisa diterjemahkan sebagai perang; berebut air.

Krisis air akan berdampak pada kehidupan warga dunia di semua benua.

Cina sang raksasa Asia, dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, menghadapi krisis air. Pasokan air per kapita di negara ini secara signifikan lebih rendah dari rata-rata global.

Selama tiga dekade terakhir Cina sukses bertransformasi, dari negara pertanian miskin menjadi “pabriknya dunia”. Tapi, keberhasilan ini harus ditebus dengan harga sangat mahal. Pembuangan limbah industri secara masif telah meracuni sungai dan air tanah, sementara Cina sangat bergantung pada keduanya.

Di selatan Eropa, negara-negara seperti Estonia, Rumania dan Hungaria mulai merasakan krisis. Ratusan juta orang lainnya di Meksiko, Argentina dan negara-negara di sepanjang garis pantai barat Amerika Selatan juga sulit mengakses air bersih.

Afrika Selatan, pada kemarau tahun lalu, terpaksa membuat regulasi untuk membatasi penduduknya dalam menggunakan air.

Indonesia? Tentu saja, tidak terkecuali. Negara kepulauan yang hamparan lautnya lebih luas dari daratan ini juga mulai diintai krisis air. Dengan populasi 254 juta, kebutuhan air bersih terus meningkat. Statistik terakhir menunjukkan angka konsumsi air di Indonesia meningkat 15-35 persen per kapita per tahun. Peningkatan ini tidak diiringi pola konsumsi air yang bijak.

Forum Air Dunia memprediksi krisis air di Indonesia akan mulai terasa pada 2025. Tanda-tanda menuju krisis itu mulai terasa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sedikitnya 102 kabupaten dari 16 provinsi di Indonesia mengalami kekeringan karena ketersediaan air yang tidak mencukupi serta dampak dari musim kemarau. Kekeringan paling banyak terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan dan Bali.

Pada kuartal ketiga tahun 2016, 375 desa di sembilan kabupaten di Nusa Tenggara Timur krisis air bersih akibat kekeringan (kompas.com: 30 Agustus 2016). Pada periode sama, desa-desa di lima kecamatan di Gunungkidul, Yogyakarta, juga mengalami krisis air. Kalimantan Timur juga turut merasakannya. Krisis air terus mengintai daerah-daerah lain di Indonesia.

Apa yang telah kita lakukan untuk merespon ancaman krisis ini?

Hari Air Sedunia, yang diperingati 22 Maret setiap tahunnya, kiranya menjadi momentum bagi warga dunia untuk mengingat kembali ancaman krisis air yang mengintai. Lebih dari sekedar tanggalan, semestinya peringatan hari tersebut menjadi penggerak dan pendorong agar kita, setiap individu, bijak dalam menggunakan air.

Mari menjaga air, demi merawat bumi kita. Mulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil; tidak buang sampah dan limbah di sungai, gunakan air seperlunya saat cuci mobil, menutup kran saat sikat gigi, maksimalkan kapasitas cucian pada mesin cuci agar tidak perlu mengulang, mandi dari shower bukan dengan gayung. Dan, banyak lagi cara lainnya. Menghemat air sekarang, menyelamatkan banyak kehidupan hidup di masa depan.

Memayu hayuning bhuwana. Mari jadikan bumi ini tempat yang indah dan tentram untuk ditinggali. Selamat Hari Air.

Andi Irawan, Medco Foundation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.