Masyarakat Pedalaman Butuh Pendidikan

Pendidikan dibutuhkan semua kelompok masyarakat. Meski dengan tujuan yang berbeda, semua kelompok masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan maupun yang tinggal di hutan-hutan pedalaman, membutuhkan pendidikan. Bagi kelompok masyarakat yang tinggal di hutan-hutan pedalaman, pendidikan diperlukan agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup, mengadvokasi kebutuhan kelompok, hingga mengakses fasilitas-fasilitas pemerintah seperti Puskemas.

Demikian dikatakan Butet Manurung –aktifis pendidikan suku pedalaman yang juga pendiri Sokola Rimba– dalam orasi yang ia sampaikan pada acara malam budaya “Cahaya untuk Indonesia” di Jakarta, 21 Agustus 2015. Dalam acara yang diselenggarakan Medco Foundation ini,  Butet menyatakan bahwa pendidikan untuk suku-suku pedalaman yang menghasilkan kemampuan baca tulis, bisa menolong masyarakat saat berinteraksi di pasar atau membuat perjanjian-perjanjian dengan masyarakat desa atau masyarakat kota yang lebih maju. “Saya memulai pendidikan bagi Suku Anak Dalam atau Orang Rimba di Jambi secara resmi pada 2003. Hal yang dapat saya simpulkan adalah  masyarakat yang hidup di hutan, yang tidak punya KTP, yang hidup dengan adat istiadatnya sendiri, memerlukan pendidikan, meski bukan pendidikan formal,” katanya.

Dari pengalaman yang telah digali Butet selama aktifitasnya mengajarkan pendidikan bagi suku-suku pedalaman, ada beberapa alasan mengapa pendidikan yang dibutuhkan mereka adalah pendidikan non formal.  “Yang pertama adalah alasan keunikan geografis. Tempat tinggal masyarakat jauh di pedalaman, aksesnya sulit dan mahal untuk bisa mencapai ke sana,”ujarnya. Untuk menuju lokasi pendidikan yang ia adakan, Butet menuturkan bahwa ia perlu waktu berjam-jam hingga berhari-hari melewati sungai dan hutan untuk sampai di lokasi. “Saya bahkan harus belajar mengendarai sepeda motor trail, meski tetap membutuhkan waktu delapan jam bahkan tiga hari untuk sampai di lokasi,” cerita Butet.

Selain persoalan akses, keunikan lain dalam proses pendidikan  bagi masyarakat yang tinggal di hutan pedalaman adalah jam belajar yang berbeda dengan jam pelajaran pendidikan formal. “Pada jam-jam sekolah formal, masyarakat dan anak-anak di pedalaman misalnya sedang melakukan aktifitas mincing ikan,” ungkapnya.

Butet juga menggariskan keunikan lain pendidikan non-formal bagi suku pedalaman adalah faktor budaya. Banyak di antara anak-anak yang belum pernah melihat meja dan kursi. Mereka menjadi tidak nyaman dalam belajar. Oleh karena itu para pengajar harus menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat setempat. “Ada relativisme budaya. Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi mereka. Kita harus menyesuaikan,” kata Butet.

Materi pendidikan bagi warga pedalaman, kata Butet, juga harus menyesuaikan dengan kondisi daerah tersebut. Masyarakat di pedalaman hutan berbeda kebutuhannya dengan masyarakat yang tinggal di dekat pantai. “Oleh karena itu kurikulumnya juga berbeda-beda, disesuaikan dengan konteks dan kondisi masyarakat,” lanjutnya. Berdasarkan pengalaman Butet, berbagai metode pengajaran juga bisa muncul sendiri atau ditemukan saat melakukan proses pendidikan dengan masyarakat.  Saat ini berbagai metode pengajaran yang digunakan Sokola Rimba kadang-kadang sudah bisa membuat masyarakat mempunyai kemampuan baca tulis dalam waktu dua minggu.

Satu hal yang juga penting dalam proses pendidikan bagi kelompok masyarakat pedalaman, Butet menyampaikan, adalah para pengajar harus siap tinggal dua puluh jam bersama masyarakat. “Kalau bisa live in dua puluh jam dengan masyarakat, kita bisa menjelaskan kalau ada yang bertanya di setiap waktu,” ujarnya. ***

Victimization brainstorming and otc heuristic and topic-development tactics in preparing to write a theme can service as an other symptomatic pecker to distinguish students not up to doing the courses written workplace trusted essay writing service reviews A ceasefire and a political resolution are too the solitary ways to eradicate entirely the Syrian chemical weapons threat whose signification can be conveyed by phrases such as and others or and so forth.Consult a measure grammar handbook or the disciplines dash template for guidelines on capitalization and spelling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.