Malam Budaya “Cahaya untuk Indonesia”
Oleh Medco Foundation
Oleh Medco Foundation
Malam Budaya “Cahaya untuk Indonesia” menjadi puncak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 yang diadakan Medco Foundation. Acara yang menampilkan orasi budaya dari tokoh-tokoh inspiratif serta berbagai pertunjukkan seni ini diselenggarakan di Kompleks Gedung Medco, Jakarta, 21 Agustus 2015.
Ketua Medco Foundation, Roni Pramaditia, menjelaskan bahwa acara Malam Budaya “Cahaya untuk Indonesia” dimaksudkan sebagai ruang untuk menyebarkan gagasan dari tokoh-tokoh inspiratif agar bisa menginspirasi semua orang. Dengan adanya inspirasi dari tokoh-tokoh ini, ia berharap akan semakin banyak orang yang peduli dan berbuat untuk perbaikan bangsa Indonesia. “Sejak awal Medco Foundation selalu ingin mengambil peran dan menjadi bagian dari proses untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Acara ini memilih tokoh-tokoh yang ide, gagasan, dan karyanya sudah menjadi inspirasi dan menjadi cahaya bagi Indonesia,” katanya.
Founder Medco Foundation, Arifin Panigoro, dalam sambutan pembukaan di acara ini mengapresiasi tokoh-tokoh yang tampil. “Seperti Pak Jatnika, saya tahunya bambu di Bali dan Yogyakarta dikerjakan orang asing. Jadi beruntung kita punya Pak Jatnika sebagai orang Sunda yang punya kepedulian pada tanaman ini. Pak Anies juga mudah-mudahan bisa memberi harapan yang lebih baik kepada Indonesia,” ujarnya. Ia juga menyampaikan apresasi bahwa Medco Foundation terus menjaga kepedulian dan melakukan langkah-langkah konkrit pada isu-isu sosial, kesehatan, lingkungan , dan pendidikan.
Malam Budaya “Cahaya untuk Indonesia” menampilkan beberapa tokoh yang menyampaikan orasi budaya. Mereka adalah Jatnika Ninggamiharja (tokoh penggiat bambu dan penerima Kalpataru 2015), Butet Manurung (pendiri Sokola Rimba), dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan.
Dalam orasinya Jatnika Ninggamiharja menyampaikan bahwa sebagai tanaman yang sangat khas dengan budaya Indonesa, bambu harus terus dikembangkan dan tidak boleh dilupakan. Tanaman bambu, ujar Jatnika, merupakan tanaman masa depan yang punya ribuan manfaat, seperti mengentaskan kemiskinan dan menjaga lingkungan link.
Sedangkan Butet Manurung dalam orasinya menegaskan bahwa meski dengan tujuan yang berbeda, semua kelompok masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan maupun yang tinggal di hutan-hutan pedalaman, membutuhkan pendidikan. Bagi kelompok masyarakat yang tinggal di hutan-hutan pedalaman, pendidikan diperlukan agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup, mengadvokasi kebutuhan kelompok, hingga mengakses fasilitas-fasilitas pemerintah seperti Puskemas link.
Ada pun Anies Baswedan menjelaskan bahwa di usianya yang ke-70 ini, generasi baru bangsa Indonesia telah tumbuh. Mereka menggantikan generasi lama yang dahulu terlibat dalam pendirian bangsa. Bagi generasi baru ini, hal yang penting dalam merayakan kemerdekaan negara bukan lagi sekedar mereflesikan apa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga melihat tantangan yang akan terjadi di masa depan link.
Selain menampilkan orasi budaya dari beberapa tokoh inspiratif, Malam Budaya “Cahaya untuk Indonesia” juga diisi pagelaran seni seperti tarian Bajidor Kahot dari Grup Rentak Harmoni, pertunjukkan kecapai suling dari Yayasan Bambu Indonesia, pembacaan puisi dari Fery Shandi, serta pertunjukkan musik oleh penyanyi Netta Kusuma Dewi dan musisi etnik Ivan Nestorman.