Transisi Energi Harus Bertumpu pada Keunggulan Indonesia

Pendiri Medco Group, Arifin Panigoro, mengatakan cita-cita transisi energi Indonesia harus bertumpu pada keunggulan sumber daya alam di Indonesia. Transisi dari energi berbasis fosil menuju energi bersih terbarukan juga butuh waktu dan pelibatan teknologi. Karena itu, sektor energi di Indonesia perlu terbuka.

“Soal transisi ke energi bersih dan terbarukan, Indonesia harus berpikir dengan konteks Indonesia. Dan harus realistis. Misalnya, dalam pengembangan energi tenaga surya. Jangan bandingkan dengan negara-negara lain yang punya tingkat iradiasi matahari lebih tinggi seperti di Timur Tengah dan Afrika.”

“Kita harus mengukurnya dengan sumber daya alam yang kita punya. Prosesnya kita sesuaikan dengan karakteristik sumbernya,” ujar Arifin Panigoro, dalam Webinar Future Energy Tech and Innovation Forum 2021 yang diselenggarakan katadata.co.id, Selasa (9/3) pagi.

Arifin juga menekankan bahwa transisi energi tidak akan pernah bisa dipisahkan dari proses pengembangan. Ia memberi contoh bagaimana negara-negara Eropa dalam rentang 10-15 tahun lalu telah mengembangkan gasifikasi batu bara (coal to gas). Butuh proses panjang, meski kemudian hanya Afrika Selatan yang bisa dikatakan benar-benar berhasil.

Sebelumnya, pada pembukaan Future Energy Tech and Innovation Forum 2021, Senin (8/3) pagi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Arifin Tasrif mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan energi bersih terbarukan di Indonesia adalah sarana jaringan yang belum merata. Pembangunan sarana ini butuh investasi besar.  

“Sumber-sumber terbesar untuk energi bersih dan terbarukan, seperti surya, tenaga air, panas bumi, angin, dan biomasa letaknya jauh dan belum didukung sarana jaringan. Meski demikian, saat ini pemerintah berkonsentrasi untuk mewujudkan rencana energi nasional,” kata Arifin Tasrif.

Menurutnya, Indonesia berkomitmen pada Paris Agremeent. Target yang dicanangkan adalah Indonesia mencapai 31 persen energi terbarukan pada 2050. “Kita menargetkan produksi energi pada 2050 nanti mencapai 200 Gigawatt, dengan 60 Gigawatt di antaranya dihasilkan oleh energi bersih dan terbarukan,” ujarnya. [INS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.